Ini adalah cerita tentang kekecewaan saya terhadap dunia pendidikan. Ini akan menambah panjang daftar keburukan sistem pendidikan yang sekuleristis. Sistem sialan inilah yang membuat bangsa semakin bejat dan akan terus membejat jika tidak segera dihentikan.
Saya pernah mengobrol dengan seorang senior saya di jurusan seni rupa di sebuah Universitas di Bandung yang katanya "hebring pisan". Dia adalah seorang "budayawan" pengikut ajaran dosen yang mengajar dengan gaya sekuleristis. Jujur saya akui dia memiliki wawasan budaya yang lebih luas daripada saya. Namun wawasannya tentang agama saya kira masih kurang. Ini bukan berarti saya lebih hebat dari dia. Bukankah "senior tidak pernah salah"?
Suatu ketika, entah kenapa saya dan senior itu berbicara soal halloween, kemudian melenceng ke budaya dan kemudian belok lagi ke pornografi setelah membicarakan seni. Yup, permasalahan yang sudah basi untuk dibahas. Adakah pornografi merupakan seni? Obrolan penuh kontroversial ini dibicarakan oleh dua mahasiswa berotak dangkal.
"Menggunakan koteka itu enggak porno!" Senior saya mulai sengit. Saya menjawabnya pula dengan jawaban yang tak kalah sengit, "Jelas porno lah!". "Menilai suatu kebudayaan itu harus berdasarkan sudut pandang orang yang bikin budaya", senior saya mencoba mencekokkan argumennya pada otak saya. "Ngomong itu harus ada referensinya...". Saya tanya lagi, "emang referensinya apa?". "Waduh saya lupa Coba deh kamu cari di internet, banyak da". Yah... obrolan yang ngelantur. Saya tanya lagi, "emang definisi porno itu apa sih?". Dia jawab "ya...segala sesuatu yang bisa menimbulkan syahwat". Hahaha!!! Jawabannya itu membuat saya dapat mengira seluas apa wawasan dia tentang obrolan ini. "Rancu atuh kang jawaban kayak gitu mah. Porno itu dalam islam ya membuka aurat (selain membangkitkan syahwat).Jelas kalo pake sistem islam mah. Referensi saya Al-Quran ama hadits". Senior pun menjawab, "Kalo ngomongin agama mah gak bakal selesai-selesai". Obrolan pun makin ngelantur. Senior tetap mempertahankan doktrin "senior tidak pernah salah".
Menilai porno dan seni sangat bergantung dari sudut pandang mana seseorang menilai hal tersebut. Maksud saya, seorang muslim harus memandang porno dan seni ini berdasarkan pandangan islam, bukan dengan sudut pandang suku asmat, apalagi sudut pandang sekuler atau sudut pandang senior saya. Soal sudut pandang ini pun sangat bergantung pada tempat dimana kita berpijak, apakah kita berpijak pada islam, suku asmat, atau berpijak pada suatu referensi sesat. Sangat wajar jika senior saya mempertahankan argumennya itu, sebab dia berdiri diatas menara sekulerisme. Begitu pula suku asmat tidak memandang penggunaan koteka sebagai pornografi. Jadi intinya, anda seorang muslim atau bukan? (lho!?)
Manusia dalam menilai kebenaran selalu menggunakan akalnya. Sudah tentu. Sebenarnya "prinsip kerja" akal itu seperti timbangan, menimbang membandingkan informasi yang sudah didapat. Artinya, akalpun menilai berdasarkan informasi yang didapat. Jika akal dapat menemukan kebenaran, untuk apa Allah mengutus Nabi dan Rasul? Toh para filsafat sejak ribuan tahun lamanya sudah berfikir mencari kebenaran. Sedangkan Rasul dan Nabi sendiri berbicara soal benar dan salah. Ini berarti Allah mengintervensi manusia dalam menemukan kebenaran, sebab dengan akal saja manusia tidak bisa menemukan kebenaran.
“Sesungguhnya kebenaran itu hanyalah dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang menolaknya.” [Al Baqarah 147]
Lalu, apakah Islam akan memusnahkan "koteka"?
Untuk apa koteka!? Islam justru akan mengajari mereka bagaimana cara berpakaian yang baik sehingga mereka akan lebih beradab dalam era globalisasi ini. Biarlah budaya koteka ini menjadi catatan sejarah, seperti halnya di zaman jahiliyah dulu, dimana masyarakat arab mengelilingi ka'bah dengan telanjang (yang mana dulu merupakan suatu budaya juga).
Wanita sendiri, beberapa dari mereka selama ini justru bagaikan barang dagangan yang merendahkan dan memurahkan diri. Mereka dikomersilkan, dan mereka sendiri senang. Seperti melacurkan diri. Mereka bertelanjang dan berlindung dibelakang nama seni. Selama ini banyak orang gila yang berjalan dengan telanjang, apa itu disebut seni? Tentu tidak, sebab mereka tidak waras. Begitu pula manusia yang bertelanjang. Seperti orang gila saja. Lagi pula berseni dengan bertelanjang itu tidak beretika. Ironis sekali, ketidakberetikaan itu dicontohkan dan diajarkan oleh orang dewasa.
Jadi, bila ingin tahu mana yang benar dan yang salah, tanya saja Allah, apakah bertelanjang itu benar atau salah.
Saya jauh jauh kuliah dengan biaya mahal untuk dididik secara sekuleristis. Menyedihkan sekali. Senior? Senior tidak pernah salah. Jika senior salah, yah... namanya juga anak-anak.
Kamis, 27 November 2008
SENIOR TIDAK PERNAH SALAH (WADUX!)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

3 komentar:
tentu saja membuka aurat adalah hal yang dilarang dalam islam. perkaranya, dilarang dalam islam belum tentu dilarang dalam agama lainnya. dan yang jadi kasus, endonesa tidaklah terdiri dari orang islam saja. ada banyak aspek yang harus diperhatikan dalam menyikapi perihal pornografi untuk masyarakat jamak.
gampangannya, apa kita mau memaksakan orang-orang yang bukan islam tunduk patuh terhadap hukum syariat agama yang tidak dianutnya? maukah mereka? atau jika kondisinya dibalik, maukah umat islam hidup di bawah syariat agama (misalnya) hindu atau buddha?
dan saya rasa senior anda benar, kalo bicara agama bakal nggak ada habis2nya. perkara keagamaan adalah perkara yang sangat personal dan subyektif. apa yang anda yakini sebagai sebuah kebenaran belum tentu juga diyakini sebagai hal yang sama oleh orang lain ;)
Islam memberikan kebebasan bagi kaum non muslim untuk melaksanakan ibadah menurut agama mereka sendiri. Islam sangat toleran. Ini terbukti ketika khilafah masih berdiri. Baik muslim maupun non muslim saat itu hidup berdampingan dengan damai. Dan saat itu kemuliaan Islam benar-benar terjaga.
Saya mengerti bahwa masalah agama adalah masalah personal. Namun kewjiban saya pula untuk mendakwahkan apa yang saya ketahui. Senior saya seorang muslim, namun dia tidak mau berpandangan sebagaimana seorang muslim seharusnya. Al Baqoroh 208 (yang artinya) :
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu."
Begitulah kurang lebih apa yang telah saya pahami. Thz atas komentar anda
Posting Komentar