Jumat, 09 Januari 2009

Deadly Sweet Mother

Siluet hitam itu sebuah rumah yang disinari mentari senja. Rumah itu berada di atas tanah yang kering berpasir. Sudah lama sekali hujan tak turun disitu, membuat daerah yang dulunya dipenuhi rumput dan bunga-bunga kecil berwarna cerah terlihat seperti gurun. Tak ada lagi keceriaan. Mentari senja yang merah semakin membisu, seakan berpaling dan tak peduli akan segala hal yang terjadi di daerah tersebut. Kesepian total, hanya ada burung pemakan bangkai yang menemani sekaratnya bayi yang dibuang ditempat sampah di belakang rumah itu. Nampaknya rumah itu adalah sebuah klinik bersalin.
Erangan kecil sang bayi memecah keheningan. “Tempat ini kotor dan bau”, dia mengeluh entah pada siapa. “Diamlah, disini tempatku mengais rezeki”, tanggap sang burung dingin. “Manusia-manusia serakah itu kini meninggalkan ladang uangnya. Nampaknya minyak disini sudah habis. Begitu pula emas dan bahan tambang lain. Mereka sama sekali tak bertanggung jawab”. Sang burung memandang bangunan-bangunan tinggi dan besar yang terletak cukup jauh dari tempat mereka berdua berada.
“Apa yang kau bicarakan ,hai burung?”
“Kau takkan mengerti ,bayi. Mereka para pemilik modal brengsek yang membuat dunia ini menjadi amat panas. Begitu pula ibumu yang tega membuangmu disini.”
“Jangan kau jelekkan orang tuaku! Ibuku baik hati, telah rela mempertaruhkan nyawanya untukku. Aku mendengarnya berteriak kesakitan tadi ketika melahirkanku!”
Sang burung terdiam sejenak. Sepertinya dia enggan untuk bicara, namun akhirnya dia menyahut juga. “Lalu kenapa tangan dan kakimu putus begitu? Kenapa ibumu mencampakkanmu disini? Kau lebih terlihat seperti seonggok daging. Ibu macam apa yang tega membiarkan anaknya menjadi makananku? Polos sekali kau bayi.”
“Ibu tolong aku!!!!!” Sang bayi berteriak ketika menyadari bahwa dirinya memang benar-benar malang.
“Kasihan sekali kau nak. Kau lapar, kotor, tubuh yang hancur, bahkan nama pun tak kau miliki. Aku pernah melihat teman-temanmu yang senasib denganmu ditenggelamkan ke dalam kloset oleh dokter kurang ajar pemilik klinik ini”
“Kupikir dokter itu menolong kelahiranku.”
“Dokter ,ibumu, dan ayahmu semua sama-sama kurang ajar. Merekalah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi padamu”
“Jangan panggil orangtuaku dengan sebutan kurang ajar! Aku tahu mereka berpendidikan tinggi!”
“Semakin tinggi pendidikan seorang manusia, justru dia semakin jahil. Ehm, maksudku jahilliyyah..Ibumu ingin membunuhmu tapi dia tak bisa, maka dia minta bantuan pada dokter aborsi itu.” Si burung menyeringai.
“Apakah maksudmu, aku anak haram?”
“Kamu tidak haram. Kau suci. Orang tuamu yang haram”.
Hening.
“Haram jadol…” Sepertinya si bayi mengakui kekejaman orang tuanya. Pemikirannya benar-benar jernih, sama sekali tidak terkontaminasi pemikiran kufur yang berbau pesing. Dia mencerna setiap perkataan sang burung dengan baik. Keheningan pun datang kembali. Dialog burung dan bayi itu hanya terdengar seperti suara bayi dan burung biasa oleh makhluk-makhluk sekitarnya. Si bayi mulai mengira-ngira apakah dia berasal dari hubungan yang halal atau haram. Angin kering berhembus. Membawa aroma darah yang kemudian mengundang teman-teman si burung. Tak lama kemudian burung-burung lain berdatangan, hanya saja mereka terbang melayang. Seperti akan merayakan sebuah pesta. Si bayi sama sekali tak merasa takut melihat siluet-siluet burung yang terbang seperti setan-setan. Si bayi kembali berbicara, “Apakah orang tuaku akan dihukum?”.”Ya, nanti di akhirat. Para pemimpin negeri ini mengizinkan pengguguran bayi, jadi jangan harap ibumu akan dihukum di dunia. Mereka telah mencampakkan hukum Tuhan Pencipta mereka. Hukum-hukum konyol dan tolol justru mereka pakai.”
“Ahh,, aku ingin ikut Idola Cilik. Sepertinya seru.”
“Hahaha….Buang harapanmu nak. Kau cerdas, acara murahan seperti itu tak berguna untukmu. Lagipula kau sama sekali tak akan memiliki harapan, sebab sebentar lagi aku akan memakanmu. Karena itu, cepatlah mati”
Merenunglah si bayi. Dia ingin berfikir, tapi kesadarannya berangsur-angsur berkurang. Malaikat maut ingin segera membawanya ke surga. Si bayi tersenyum. Senyum yang indah sekali. Sang burung pun ikut tersenyum, entah karena senang si bayi masuk surga atau karena rasa laparnya sebentar lagi akan hilang. Si bayi sadar Allah Tuhannya memberikan yang terbaik. Dia suci namun orang tuanya ternyata kafir, mungkin jika dia dewasa dia akan ikut kafir. Apalagi hidup di zaman yang penuh bau maksiat bisa saja membuat dia bergelimang dosa. Si bayi sadar mencari kebenaran amatlah sulit di alam yang sekarang dipenuhi kekufuran. Dia beruntung karena akan mati dalam keadaan masih suci. Yah, menjadi pelayan surga lebih baik dari pada hidup di dunia dengan bergelimang dosa yang berujung azab.
Si bayi pun dikoyak paruh tajam sang burung. Masa depannya yang cerah, harapan, kecerdasan pikiran, dan segala potensi yang Allah anugrahkan padanya akan berubah menjadi kotoran binatang. Tragis.

0 komentar: