Jumat, 09 Januari 2009

Nikreuh is Our Way

Tengah Malam, Musik Pengiring : My Bonie (Pancaran Sinar Petromak) “..Oh bring bek mai boni tu mi!!!”
Ternyata jadi seorang pengangguran itu sangat membosankan. Paling menghabiskan waktu dengan tidur siang, main game , atau nonton TV. Bayangkan betapa membosankannya hari-hari kalian bila hanya melihat monitor dan disuguhi tontonan darah ,pembunuhan, bualan, kisah-kisah perselingkuhan-cintasegitiga, kontes-kontes busuk, lagu-lagu cengeng, dan lawakan-lawakan yang garing. Saya ingin bergerak! Menggergaji, memukul, mencoret, membuat sebuah masterpiece kemudian menghancurkannya. Apa saja yang bisa mengusir kebosanan. Berkarya!!! Aku ingin berkarya!!! Sebuah karya monumental!!! Tapi perhatian saya teralihkan…
“SBY-JK MANA JANJIMU!?” itu sebuah tulisan demonstran yang saya lihat di TV. Ada juga yang lain “BBM NAIK RAKYAT LAPAR!”. Sang penguasa negeri berdusta. Kemudian anak-anak pengamen yang sedang digusur dipertontonkan. Tak ketinggalan harga sembako naik sampai 70%. Dan segala kegilaan lain yang membuat kehidupan makin berat. Kesalahan yang diulang-ulang. Pemimpin dan pejabat tak mau belajar dari pengalaman. Solusi yang ditawarkan di acara-acara debat maupun parodi-parodi politik di TV tak ada yang benar-benar mampu menyelesaikan masalah. Begitu pula buku-buku politik, isinya tak mampu beri solusi. Orang-orang tua sibuk mencari uang (sambil mencuci tangan?). Mereka berjuang mempertahankan hidup. Sementara yang muda bersenang-senang. Mabuk, menipu, membolos, memalak, pacaran, bergaya, sok kaya, sok pintar, dan semua sampah-sampah peradaban. Hanya beberapa gelintir yang berjuang. Berteriak-teriak dan seruan mereka diacuhkan.
Ini dia omong kosong demokrasi. Ide khayalan yang amat diagung-agungkan dipaksa menjadi sistem kehidupan. Mati-matian dibela, bahkan oleh mereka yang tertindas. Jika demokrasi benar-benar sistem yang mampu mensejahterakan kenapa masih ada orang-orang yang berpanas-panasan demonstrasi meminta harga BBM turun? Bukankah seharusnya mereka berleha-leha tidur siang karena kekenyangan? Masih proses? Indonesia sudah merdeka setengah abad lebih oy!Fakta sudah membuktikan. “Konsep tolol ekonomi…jelata gigit jari”, begitu purgatory (sebuah band) berteriak-teriak dalam lagunya. Dan fenomena lain seperti digusurnya para gelandangan dan pengamen tanpa diberi modal untuk bertahan hidup adalah pembunuhan secara perlahan. Kekonyolan seperti kewajiban belajar 9 tahun tetapi dengan biaya mahal dan sistem pendidikan yang aneh adalah pemerasan dan pembodohan.Pendidikan gratis? Kapan? Ada Punglinya (pungutan liar)enggak? Guru masih kurang gaji pasti cari “tambahan penghasilan”. Kesehatan? Mahal nian… Orang miskin dilarang sakit! Konversi minyak ke gas? Kompor gasnya ternyata banyak yang rusak! Mana bisa orang masak pake kompor rusak? Solusi BLT plus (Bantuan Langsung Tunai) apa gunanya? Plus-nya plus ngantri berjam-jam sampe sekarat. Rawan korupsi!!!Lagi pula uang 100.000 apakah seimbang dengan harga sembako dan minyak yang “sangat murah”? RASKIN pun kenyataannya banyak digelapkan. (Coba deh baca Koran yang agak lamaan,banyak berita kayak gini. Kalo mau yang anget ntar Koran bekas bungkus martabak).Dua solusi itu tidak pernah tepat sasaran. Lha data jumlah penduduk miskinnya aja enggak akurat. Kalaupun sesuai target pasti akan membuat rakyat bergantung pada BLT dan RASKIN. Saya pikir lebih baik dana BLT dan RASKIN diberikan sebagai modal rakyat untuk bekerja. Walaupun tidak menjamin kemakmuran setidaknya itu lebih baik. Anda kreatif? Silakan tambah daftar penderitaan rakyat. Demokrasi udah ngasih rakyat apa? Hadiah kelaparan?
Ada suatu kasus tentang kematian seorang kakek di suatu desa. Si kakek meninggal secara normal, karena umur yang tua dan penyakit yang parah. Berobat sudah kesana kemari. Namun semua usahanya tak mampu menahan malaikat maut untuk menangguhkan kematiannya. Keanehan justru terjadi ketika jenazah si kakek akan dimasukkan ke liang lahat. Ketika tali pocong dibuka, si mayat kakek berteriak senang ,“Eh, ketemu lagi!!!”. Kejadian setelah itu kurang jelas, sebab nara sumbernya gak bisa dipercaya.(Ngacapruk ieu mah).
Yang ini asli… di suatu daerah beberapa kelompok manusia bahkan mulai berpindah mengkonsumsi singkong dari pada beli beras. Harga singkong masih murah, selembar goceng bisa dapet tiga kilo singkong. Kalo belinya beras cuman sekilo. Itu kata seorang pembeli yang diwawancara di sebuah Koran. Itu hadiah demokrasi, memaksa rakyat untuk lebih berhemat agar bisa bertahan hidup. Hemat terus mah jadi pelit ama diri sendiri dong. Masak nanti-nanti hematnya sampe makan sekali sehari sepiring berdua? Kurang gizi deh. Masak badan sendiri gak dikasih gizi? Nutrisi untuk otak? Nomer seribu! Oon gak apa-apa yang penting perut kenyang dulu. Tau gak cara khalifah Umar mengatasi krisis tempo doeloe? Khalifah berhenti makan daging ama keju. Tiap hari Cuma makan roti kering sama zaitun. Sampai perutnya keroncongan dan sang Khalifah benar-benar merasakan penderitaan rakyat. Selain itu beliau menghimbau rakyatnya untuk berhemat. Gak boleh ada perjamuan yang menyuguhkah kombinasi daging dan keju. Menghimbau rakyatnya untuk berinfak. Kas Negara dikasih buat yang bener-bener krisis. Tak lupa menyuruh rakyatnya bertobat dan berdoa agar krisis cepat selesai. Akhirnya krisis dilalui. Wakil rakyat yang dipilih dengan demokrasi? Tak pernah saya dengar/ baca ada pejabat Negara seperti itu. Bahkan tokoh-tokoh parpol yang giat mengkritik kondisi negara. Padahal trik seperti itu bisa dipake kampanye.
Terkait dengan mahalnya BBM, tentu memaksa rakyat untuk hemat juga. Penggunaan kendaraan bermotor semakin berkurang. Asyiik Global Warming sedikit teratasi!!! Saatnya naik sepeda kesekolah ke pasar dan kemana-mana! Tapi harga barang masih mahal cing. Inget kasus pemalakan di d’rise edisi tujuh kemarin? Awas aya begal… itu kemungkinan awal. Kemungkinan lainnya, jalanan bakal penuh paku, soalnya tukang tambal ban sepeda perlu duit juga. Udah gitu, biaya nambal ban seharga dengan satu liter bensin (waks!parah amat!). Kas Negara pun menipis karena berbagai hal. Inget , pemasukan kas terbesar negeri kita ini adalah pajak. Maka sepeda pun pake pajak. Enggak lupa, yang naik sepeda wajib pake helm, punya SIM, dan pake sabuk pengaman. Yang gak pake kena tilang. Ujungnya, nyikreuhlah (artinya kira-kira jalan kaki) rakyat Indonesia. Nyikreuh yang saat ini adalah my way akan jadi your way. Yes, nyikreuh is our way..
Saya jadi ingat filosofi tangan (sebut aja gitu) yang saya dengar dari seorang punakawan berkulit hitam. Katanya kalau kita mengacungkan jari telunjuk menuduh orang lain, sebenarnya jari yang lain justru menuduh diri sendiri. Dari tadi saya bicarakan ide-ide dan solusi orang lain. Saya bosan dan kalian pun tentu muak. Kita perlu solusi baru! Bagaimana kalau Negara ini kita bubarkan saja? Seperti kata guru saya, ganti nama negaranya, ganti pemimpinnya, ganti pejabatnya, pokoknya ganti semuanya!!! Hehehe, tidak seperti itu kok. Revolusi! Revolusi dengan sistem Islam. Revolusi yang tidak berdarah. Seperti yang telah terjadi pada Islam ketika negara islam pertama kali terbentuk di Madinah. Dengan kehidupan rakyat yang makmur. Bahkan 12 abad Khilafah (Negara Islam) berdiri kasus pencurian hanya 200 .Saking makmurnya! Ini bukan teori, bukan khayalan, Islam telah berhasil diterapkan di masa lalu dan pasti kesuksesan itu akan terulang. Bila seluruh umat mengerti akan pentingnya syariah islam, maka apa yang akan menghalangi revolusi damai?
Nah kembali dengan demokrasi. kedaulatan di tangan rakyat Cuma retorika. Dengan realita seperti ini untuk apa berdemo? Panas-panasan doank! Pecat saja langsung pemimpin dan pejabat-pejabatnya. Bukankah yang mengangkat mereka itu kalian, hai rakyat!? Bukankah kalian itu berkuasa? Akhiri penipuan besar-besaran ini! Mari hancurkan demokrasi!!! Jangan sampai demokrasi membuat nyikreuh menjadi our way!!
DOWN DOWN KUFR, RISE RISE ISLAM!!!

0 komentar: