Sendirian di kamar, sunyi sepi, hening sekali. Inilah kerjaan seorang pengangguran (setidaknya itulah yang saya lakukan). Musik? Bosen…Radio? Alah...TV?... Ahhh bête!!! Tapi kalo dipikir-pikir, diem terus dikamar gawat juga. "Terisolasi" dari dunia luar. Bisa ketinggalan informasi!. Lagipula bukankah manusia itu makhluk sosial? Eh, jadi inget hikikomori.
Hikikomori adalah salah satu fenomena sosial di Jepang, negeri yang dikenal dengan manga dan HARAmJUKUt-nya. Fenomena ini rata-rata terjadi pada remaja berumur 13-15 tahunan. Mereka menarik diri dari dunia luar dan kemudian diam dikamar selama lebih dari enam bulan, (baru bisa disebut hikikomori kalo udah lebih dari enam bulan) bahkan ada yang bertahan sampai sepuluh tahun tanpa keluar. Edan tenan…Sehari-dua hari sih oke lah, sepuluh tahun apa enggak jamuran tuh? Terus mengurung diri tanpa punya teman, dan kemampuan hidup. Waktu dihabiskan dengan bermain game, mendengarkan musik, browsing internet, diam di depan komputer atau nonton TV (lebih parah daripada pengangguran kayak saya). Ada juga beberapa yang keluar dimalam hari untuk membeli CD game baru. Beberapa gelintir yang lain menggunakan internet dan handphone untuk berinteraksi dan membuat komunitas sesama hikikomori. 0_0! Hikikomori membuat pelakunya menjadi hilang empati. Semakin lama hikikomori dilakukan, semakin sulit pelakunya berinteraksi. Ketidakmampuan interaksi tersebut membuat pelaku hikikomori menjadi frustasi. Pelaku tiba-tiba menyerang orangtuanya, ada juga yang berteriak-teriak ketika orang-orang sedang tidur sebagai luapan kekesalan dan amarahnya. Jujur saya sempet heran ternyata ada juga orang yang melakukan hal seperti itu. Dan hal itu dilakukan bukan untuk mencari pujian agar masuk buku rekor.
Diperkirakan ada satu juta remaja jepang dan didominasi oleh remaja laki-laki melakukan hikikomori. Mereka melakukan ini karena beberapa faktor, biasanya karena tekanan dari luar yang dianggap terlalu berat. Tekanan dari orang tua, tekanan lingkungan, dan terutama tekanan dari sekolah. Ketika menempuh ujian, ada pemahaman pass or fail yang mengakibatkan stress level tinggi. Orang jepang terbiasa apa-apa teratur. Bahkan dalam peralatan sekolah sekalipun. Alat-alat sekolah dibeli di dalam sekolah sehingga terjadi keseragaman. Murid pindahan sekolah lain secara otomatis memiliki peralatan sekolah yang berbeda (seragam sekolah aja di jepang ditentuin sama sekolahnya, jadi satu sekolah dengan sekolah lain seragam sekolahnya beda). Dia yang berbeda cenderung tidak disukai. Ini menyebabkan ijime (bullying), yang bahkan anak SD aja bunuh diri karenanya.
Mengenai ijime sendiri sering terjadi pada mereka yang berbeda (penggunaan kata "mereka" disini aja diskriminatif banget!). Sekali lagi, orang yang berbeda cenderung tidak disukai. Misalnya, ada orang yang kerjanya lambat, anak yang bodoh, anak yang terlalu pintar, atau anak pindahan sekolah lain. Ijime di kalangan laki-laki biasanya kelihatan bekasnya, misalnya memar-memar karena dipukuli. Dikalangan perempuan lebih edan. Anak perempuan suka dikata-katai, diambil (maap) celana dalamnya untuk dijual, (yang mana laki-laki brengsek akan membelinya dengan harga jauh lebih mahal dari yang baru), diacuhkan, di tertawakan, ketika pelajaran olah raga waktu mengoper bola, bolanya sengaja tidak diambil, trus kalo ngoper ke dia (yang berbeda) dikasih bola yang susah kemudian ditertawakan bila gagal ditangkap. Pantas orang yang di ijime jadi stress dan bunuh diri karena enggak tahan. Anehnya, bila ada orang yang melakukan kejahatan dibawah umur cenderung dilindungi dari media dengan tidak menampilkan nama, inisial, dan wajah. Sekolah-sekolah banyak yang tidak mau mengakui di sekolahnya ada ijime. Faktanya ditutupi.
Mereka yang merasakan tekanan berat akhirnya melakukan hikikomori. Hikikomori memang bukan suatu solusi. Hikikomori dilakukan untuk menghindari tekanan (daripada harakiri?). Hikikomori dimungkinkan karena budaya jepang membiarkan seorang anak hidup dengan orang tua hingga melewati masa remaja. Juga karena orang tua memberi makan si pelaku hikikomori , walaupun sebenarnya orang tua khawatir anaknya tidak mampu hidup dengan kemampuan sendiri. Dr. Saito, seorang kritikus sosial berkata, "Di Jepang, hubungan ibu dan anak seringkali menjadikan mereka saling ketergantungan.Tak jarang, seorang anak yang berusia 30 atau 40 tahun, masih tinggal bersama ibu mereka,"
Selain hikikomori, bunuh diri juga ternyata menjadi budaya. Bahkan dipandang sebagai harga diri. Harakiri-menebas perut, sering kali kita lihat di film-film samurai. Zaman peperangan dulu, pihak yang kalah akan melakukan harakiri serentak daripada tunduk pada musuh. Bahkan diberitakan ada suatu kastil di jepang banjir darah saking banyaknya orang yang harakiri hingga noda darah di lantai dan di langit-langit tidak bisa dibersihkan sehingga masih bisa dilihat sampai sekarang. Serem juga. Kalo jaman dulu sekulerisme belum masuk jepang, terus agama yang mendominasi jepang saat itu kok bisa memiliki pandangan tentang bunuh diri sebagai perbuatan terhormat? Kacauuu!!! Berarti agama saat itu tidak mengajarkan bagaimana "bertawakal" (soalnya kata tawakal cuman ada di islam),tabah, memperbaiki hidup dari keterpurukan, dan makna perjuangan adalah usai setelah menemui kemenangan atau kekalahan. Anak istri jadi terkatung-katung. Entah apakah setelah itu keluarga mereka ikutan harakiri atau tidak.
Disuatu blog (saya lupa alamatnya), ada seorang penulis ikut berbagi pandangannya tentang fenomena bunuh diri. Menurutnya, bunuh diri disebabkan karena konsep yang mereka buat sendiri tentang sukses. Orang jepang punya stereotip tentang tahapan hidup, misalnya lulus kuliah jadi karyawan biasa, umur 40 menjadi kepala bagian, umur 50 menjadi kepala cabang, dst. Usia dan pendapatan berbanding lurus sehingga perusahaan menentukan besar gaji berdasarkan umur. Mungkin hal ini membuat mereka malas menikah di usia muda, meski golongan bapak akan kerepotan sendiri saat harus menemani anak berlari pada pesta olahraga di SD nanti. Dalam bidang pendidikan, banyak sekali bimbingan belajar di luar sekolah yang meyokong agar anak-anak menang bersaing masuk sekolah favorit, seorang anak harus meraih nilai tertentu untuk bisa lolos ke suatu sekolah. Belum ditambah tekanan untuk bisa eksis secara sosial, mulai masalah pakaian, gaya hidup, sampai memiliki pasangan. Kegagalan dalam tahapan itu akan menciptakan dunia baru, seperti munculnya istilah hikikomori, gyaru, ganguro,(apa nih?) dkk (gyaru = girl : kelompok wanita remaja dengan dandanan aneh, usaha penciptaan komunitas baru yang menjamin mereka eksis secara sosial? ). Yang lebih parah, kelompok bunuh diri bersama: perjanjian bunuh diri bersama, dan sempat menjadi tren menghirup gas monoksida di dalam mobil!!!
Adalagi yang rada sereman dari korea, Buku Kutukan! Buku berwarna merah berisi kolom nama calon terkutuk, kata-kata kutukan yang dituliskan sendiri, lengkap dengan gambar boneka sihir rebah yang siap ditusuk-tusuk (dikatakan kawai (=imut??)). Mirip Deathnote ,siapa yang namanya tertulis dalam catatan ini akan mati! Masalahnya buku kutukan ini laris dibeli oleh anak-anak SD, sedini inikah pikiran mereka dipenuhi dengan nafsu mengutuk?
Benar-benar memprihatinkan, bahkan di suatu blog (yang ini juga lupa alamatnya) ada kisah yang lebih menyeramkan! Seorang Indonesia yang berkunjung ke jepang berbagi pengalamannya dalam blog tsb. Katanya, dijepang tuh banyak orang aneh. Ada yang baru aja kenal, tengah malemnya nelpon minta nginep! Ada yang kalo ngobrol gak berhenti-berhenti, ada yang selalu ngomong dengan topik diri sendiri (narsis), ada yang kalo ngeliat orang "aneh" (orang aneh jepang menganggap orang Indonesia itu aneh) trus dikuntit sampe orang yang diikutin itu ketakutan, eh ujung-ujungnya cuman minta foto bareng. Malah di TV jepang (kalo di Indonesia barangkali sejenis Buser) ada ibu yang membunuh anaknya biar bisa bermesraan dengan pacar barunya, memaksa anaknya makan sampah, kasus pembunuhan berantai pada gelandangan, bahkan ada guru SD yang bikin website isinya foto-foto anak kecil (maap) telanjang dan foto mayat-mayat anak kecil. Bener-bener psycho!!! Serem gak tuh!?
Nah lho! Sekering itukah jiwa spiritual manusia diluar Indonesia sana? Kurang sekali siraman rohani. Agama non islam yang mendominasi jepang dan sistem sekuler yang diterapkan secara global ternyata sukses membuat manusia sakit mental. Hikikomori dan harakiri adalah tanda seorang manusia cepat putus asa. Tidak mau menghadapi tantangan. Lari dari tanggung jawab. Tidak mau bangkit dari keterpurukan. Dan itulah mental seorang pengecut. Dan budaya pop lain juga mambuat mental rusak berat. Harus direhabilitasi tuh mereka. Hanya islam yang mengajarkan tawakal, tabah, tahan banting, dll-dll. Silakan cari ajaran islam dimana aja, asal jangan hikikomori di dalem gua. Itu mah namanya bertapa cari wangsit. Gimana nih remaja yang suka ikut-ikutan jepang-jepangan, yang namanya juga dijepang-jepangin, mau ikut hikikomori dan harakiri juga?
Eh, gimana kalo Indonesia hikikomori aja biar gak ada intervensi asing? Temen-temen juga hikikomori aja. Bangun tengah malem trus ke WC ambil wudhu, tahajud deh. Dijamin bermanfaat.
(berbagai sumber)
Jumat, 09 Januari 2009
Psycho Pleasure
Diposting oleh pocong rider di 01.43
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

3 komentar:
bagus bgt artikelnya..
bs jd pelajaran jg buat kita ?
yap,,
Islam emang agama paling sempurna..
hoho..
wah keren... banyak orang yang udah psycho sekarang ini. bahkan media dan pengusaha kita udah ga waras.
liat aja kasus Ryan. Pembunuh sadis, yg membunuh lebih dari 9 orang tapi diperlakukan oleh media kayak seleb aja, ampe masuk acara gosip. Lebih gilanya, ditawarin rekaman nyanyi lagi. ntar orang jadi mikir, kalo pengen jadi penyanyi and dikejar oleh media (kayak media ngejar2 seleb), ga usah susah payah ngantri ikut audisi pencari bakat lagi(kayak Indonesia Id*l) cukup jadi pembunuh berantai kayak Ryan aja. hanya bermodal pisau en ga ada hati doangi....... What on earth is going on???
Yang normal dianggap aneh. Yang aneh dianggap normal. beuuuh....
Posting Komentar