Jumat, 09 Januari 2009

Normalisme Adalah Abnormal

Beberapa minggu yang lalu saya ngobrol dengan sahabat dekat saya. Entahlah siapa yang memulai obrolan dan sejak kapan obrolan itu dimulai. Apa yang kita obrolkan adalah "jalan hidup", dimana saya menjadikan Islam sebagai jalan hidup yang saya perjuangkan dan saya gunakan untuk menekan kekufuran, termasuk kekufuran yang sudah dianggap biasa (seperti pacaran, demokrasi, dll). Diapun sebenarnya seorang muslim, namun dia memilih islam yang "normal". "Saya mah normalisme ajah!", begitu dia bilang. Normalisme? Oh kawan, apa normalisme yang engkau maksud adalah bersikap seperti orang kebanyakan, termasuk diam menghadapi kekufuran dan netral, tidak berpihak pada "si ideologis islam" dan tidak pula masuk kedalam kekufuran? Oh kawan, normalisme yang kau maksud itu adalah abnormal.
Hidup jaman sekarang susah. Makan pake pajak, mandi bayar, sekolah apalagi, udah gitu penduduknya miskin pula. Orang-orang "normal" bilang, rakyat Indonesia tu pada males. Emang ga sepenuhnya salah, tapi apakah wajar jika setengah dari penduduk Indonesia (sekitar 100 juta lebih) miskin? Kalo miskinnya karena cacat sehingga gak bisa kerja, atau beberapa gelintir orang yang males sih normal-normal aja. Kemana matamu kawan? Lihat tukang becak yang berat mengayuh becaknya ditanjakan, apa dia malas? Lihat juga tukang delman, tiap hari mangkal, apa dia juga malas? Pedagang kaki lima, sopir-sopir angkot, penjaga sekolah yang rajin begadang, tukang mungutin sampah yang gak juga bersih, apa mereka semua pemalas dan cacat? Lalu kenapa dompet-dompet mereka tak kunjung tebal, padahal mereka rajin bekerja, bahkan lebih rajin daripada manusia-manusia yang cuma tidur di DPR dan wanita-wanita yang hanya bisa berjoget didepan pria-pria hidung belang. Apa kau pikir mereka miskin karena pendidikan mereka yang rendah? Siapa yang membuat biaya pendidikan mahal, sehingga anak-anak mereka ikut-ikutan berpendidikan rendah (yang berarti melestarikan kebodohan)? Belum lagi kekayaan alam kita yang disodakohkan habis-habisan dan uang rakyat yang dikorup. Mari samakan persepsi, kita tidak miskin, tapi dimiskinkan.
Uhh, Negara kita menggantung. Buang sajalah politik jika kau muak membicarakannya, mari kita bicara dengan kebudayaan kita. Animisme sudah sejak lama ditinggal mati para kakek-nenek yang menganutnya, tapi pada teknologi yang amat canggihpun kita belum sampai. Siapa orang Indonesia yang pernah menginjak bulan? Nini Anteh? aww man, itu dongeng waktu kita masih ngompol!!! Berhentilah belajar bodoh. Akui saja bahwa teknologi kita masih tertinggal. Indonesia memang sedang berkembang. Tapi berkembang kemana? Apakah turunnya peringkat pendidikan menjadi beberapa tingkat dibawah Malaysia itu sebuah perkembangan? Apakah berpakaian setengah telanjang didepan umum itu juga bentuk perkembangan moral? Apakah maraknya kasus mutilasi, pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, dan hal-hal sialan lainnya itu semua perkembangan? Pergi kemana budaya timur kita? Indonesia didominasi orang muslim, tapi kenapa islam saat ini tidak jadi rahmatan lil alamin? Lalu apa yang berkembang? Oh iya, takhyul dan teknologi berhasil disatukan. Komputer zaman sekarang sudah bisa meramal. Tinggal ketik nama sendiri dan nama pasangan, maka hasil ramalan sudah bisa dilihat. Contoh, ketik saja Monyet Buduk dan pasangannya Anjing Gila, maka hasil ramalannya " Cinta anda akan langgeng". Bwahahaha!!!! Tolol sekali manusia yang percaya ramalan itu!!! Benar benar kemunduran berfikir, logika gak jalan. Mari kita ramal lewat handphone saja, ketik REG spasi NAMA spasi Zodiak. Eh, zodiakmu apa, embe badot atau raja singa? Mau tau zodiak ogut? Pegasus!!!
Eit, jangan dulu berhenti sobat. Kita lihat lagi hal-hal yang membuat kita muak. Akan kubuka matamu selebar mungkin dalam memandang kenyataan. Agar penyakit apatismu sembuh. Kita kan sahabat, takkan kubiarkan sahabatku penyakitan. Lihat sekarang Sukabumi, kota kecil dimana kita hidup. Ada banyak sekali wanita-wanita berpantat tepos memamerkan tali kutangnya (bibi saya pernah bilang, cewek baik-baik pantatnya monyong dan wajahnya bercahaya. Gak percaya? Silakan bandingkan wajah Artis tukang joget dengan wajah gadis paling alim dikampung anda!). Jangan tertawakan aku. Aku tak bermaksud memperhatikan pantat mereka. Aku tahu mereka tepos karena tiap hari aku lihat mereka. Kagak sengaja keliatan gitoh! Ada banyak juga pasangan yang bukan muhrim merayakan kematian seorang pendeta (valentine). Berjalan berpelukan. Berjanji sehidup semati. Sehidup sih iya. Kalo yang satu mati, emang yang satunya lagi mau ikut dikubur? Coba kau Tanya mereka, siapa tuhan mereka. Kebanyakan mereka pasti menjawab, Allah. Lalu kenapa mereka masih saja tak mau menuruti perintah Tuhannya? Kalo ditanya soal itu, biasanya mereka bikin alesan konyol. Mempererat silaturahmi lah, motivasi belajar lah, macem-macem. Berbagai dalih mereka keluarkan untuk membenarkan perbuatan mereka. Lalu kenapa tidak sekalian saja mereka korupsi dengan dalih untuk naik haji, merampok untuk sodakoh, atau maen santet untuk membunuh pejabat yang korup? Bukankah hal itu lebih berguna daripada mempererat silaturahmi melalui pacaran? Rupanya ada banyak sekali manusia-manusia munafik hidup didunia ini. Normalkah mereka?
Hah!? Apa!? Yang keras donk ngomongnya, gak kedengeran nih! Oh, kamu pacaran ya… Kok kamu pacaran sih, pacaran kan dilarang? Pacaran islami? Hahaha! Emang ada pacaran islami? Kalo kamu pacaran islami, ogut mau zina islami aja, korupsi islami, uniko islami, membangkang islami, bokep islami, mabok islami, dan islami apa lagi ya? Silakan tambah sendiri lah, kamu kan kreatif. Tunjukin dalil pacaran islami donk, ada gak? Sobat, zina itu jalan yang keji dan buruk. Udah keji buruk lagi! Gak usah pake istilah islami segala lah.
Liat wajahmu sepertinya kau mulai pusing. Ok, perkecil lingkupnya, kita bicarakan sekolah kita ok? Apatis, penyakit itulah yang menghinggapi otak teman-teman kita. Agustus lalu biaya SPP sekolah kita naik. Makin mahal! Muridnya? Makin mati! Beberapa hari lalu aku lihat juga di mading ada rumus menghitung keberuntungan. Mulai meramal! Yup, logika teman-teman kita telah mati. Setengah mati ketank, mati pisan mah parah teuing!!! Tambah lagi keanehan, ngelegalisir raport staff TU nyuruh kita ngisi kropak buat infak!!! Kita diperas!!! Harga LKS? Selangiiiit! Harga pengayaan?Dua lagiiiiit! Belum lagi kita akan menghadapi acara tahunan sekolah, mau ngundang bintang tamu segala, pungutan lagi coy! Teman-teman kita? Lagi mati, bobo karena tamparan hedonisme yang melenakan dan tak mau tahu dengan teman mereka yang kurang mampu. Empati udah mati. Brutal ya? Inilah keabnormalan, lawan kata dari normalisme yang kau banggakan. Beringas menghadapi penindasan.
Ya sudahlah jika kau muak dengan obrolan ini. Lagi pula akupun ikut muak. Pergi saja dengan penyakit apatismu. Tapi sebagai sahabat aku akan berusaha menyadarkanmu. Aku tahu dalam hati kau mengakui kebenaran yang aku sampaikan. Apatismu membuatmu tidak peduli lingkungan. Masa depan kita sebagai pemuda terancam hancur oleh penyakit apatis semacam itu. Apa yang akan kau lakukan jika masa depan yang hancur datang? Apa yang akan kau lakukan jika SPP mencapai 1 Milyar per bulan? Apa yang akan kau lakukan saat manusia berjalan dengan telanjang? Apa yang akan kau lakukan jika pajak semakin gila!? Saat itukah kau akan menjadi "tidak normal" dan memperjuangkan Islam, atau justru merengek meratapi hancurnya masa depan?
Silakan saja bila kau ingin tetap menganut "normalisme"mu dan netral. Tapi sadarilah, setiap jalan memiliki konsekwensi. Allah telah menyediakan surga bagi siapapun yang berjuang dijalan-Nya, dan neraka bagi siapapun yang membangkangi-Nya. Kalau kau pilih netral, dimana tempatmu nanti? Dan Allah tetap akan menghisab ke-normalisme-an mu. Kau akan dihukum karena kau netral(netral masuk neraka juga donk!).

0 komentar: